Sunday, 5 October 2008

Arsitek Indonesia

Arsitek di Indonesia, juga seperti profesi lainnya di Indonesia, secara umum masih merasa 'dibawah kelas' profesi yang sama di negara2 lain. Rasa 'minder' dan anggapan masyarakat bahwa 'produk indonesia' dibawah rata-rata masih terasa dominan.

Namun bila kita teliti lebih lanjut, terkadang, perbandingannya lah yang tidak sesuai. Sering kita membandingkan para arsitek kita dengan arsitek 'kelas dunia'. Misalnya, arsitek top dari Amerika. 

Yang kita tidak sadari adalah, para arsitek top ini, juga merupakan 'arsitek top amerika', yang berarti, di mata arsitek 'umum' di amerika, merekalah yang paling bagus. Sementara, banyak arsitek di Amerika atau negara maju lainnya, sebernarnya, dapat kita anggap 'biasa' saja, atau tidak lebih bagus dari arsitek lokal.

Seperti misalnya, acara TV 'Sex and the City' dan acara TV lainnya yang sejenis, yang mungkin secara umum, kita anggap adalah bagian lifestyle dari warga di Amerika pada umum. Single adult woman yang penuh dengan 'kegiatan' seksual dalam hubungan dengan pria mana saja yang mereka suka. Terasa sangat liberal dan bebas dari kungkungan 'moral'.

Kembali lagi kita harus melihatnya, bahwa serial TV ini, adalah 'mimpi'nya orang Amerika juga, dalam arti, tidak realistis menggambarkan 'value' sehari-hari warga Amerika pada umumnya.

Apakah ada wanita2 seperti ini? pasti ada. Disini pun juga ada. Tetapi apakah ini menggambarkan lifestyle single woman di Amerika pada umumnya, jawabannya kemungkinan besar adalah tidak. Bahkan saya berani menebak banyak wanita di Amerika yang jauh lebih konservatif dibandingkan wanita di Indonesia.

Secara garis besar, manusia itu sama dimana saja.

Lalu hubungannya dengan arsitek di Indonesia apa?

Nasibnya hampir sama, dimana arsitek indonesia, menjadi korban image yang telah terbentuk selama ini, kelas kambing. Bila saya dilahirkan sebagai anjing, tetapi orang tua saya menggangap saya kambing dan memberi makan seperti layaknya kambing, teman-teman saya bilang saya itu benar kambing, guess what?walau saya berdiri didepan cermin, saya pun akan berkata, saya kambing.

Saya, dan arsitek indonesia lainnya, lupa untuk mengonggong.

Bila anda, sedang mencari arsitek untuk proyek rumah anda, hal yang terpenting justru memberikan motivasi kepada sang arsitek ini, agar dapat berani bekerja diluar apa yang selama ini ia kerjakan. Berikan tantangan dan dukungan kepadanya.

Mungkin anda merasa konyol untuk melakukan hal ini. But trust me, bahkan bila anda melihat sang arsitek ini sudah cukup baik hasilnya, tetap tantang ia agar bisa lebih baik lagi. Bangunkan arsitek ini dari ingatkan bahwa ia bisa mengonggong.

Saya sendiri sering kehilangan motivasi dalam bekerja. Dan klien yang baik, justru adalah para klien yang membuat saya 'menggonggong' lebih keras. Mengingatkan kepada saya, saya bukanlah, kambing.

Bila sang arsitek diberi motivasi, ia akan memberikan hasil yang baik, dan berarti, untuk para klien, itu adalah keuntungan yang luar biasa, dimana sang arsitek dapat memberikan hasil yang terbaik untuk kita.

Friday, 3 October 2008

Feng Shui Lagi....


Apakah Feng Shui bagian dari arsitektur?

Well, ada yang setuju, ada yang tidak. Yang tidak setuju mungkin berpendapat karena Feng Shui sifatnya tidak terukur/teruji, atau puluhan alasan 'akademik' dan 'profesional' lainnya...

Dan penjelasan itu saya rasa masuk akal.

Tapi, yang juga saya pikirkan, lalu bagaimana tentang efek warna? golden section? proporsi? emotional attachment? hirarki?

Apakah sebuah 'karya arsitektur' hanyalah sebuah 'benda' yang harus masuk akal?

Lalu kenapa kita 'suka' akan satu style tapi 'benci' akan style lain? (walaupun keduanya memiliki fungsi yang sama)

Mengapa saya harus memperhatikan 'simbol'2 tertentu dalam mendesain Gereja atau Mesjid?

Mengapa rumah tinggal, tidak bisa kita anggap sebagai 'our personal temple', dimana saya adalah Raja nya?

Untuk siapa arsitek mendesain rumah tinggal? Apakah rumah itu harus 'masuk akal'?

;-)


Thursday, 25 September 2008

Desain Rumah Gratis?

Bagaimana bila kita para arsitek memberikan desain rumah gratis?

Berita diatas, seharusnya membuat para calon klien 'kegirangan'..good news! Saya punya ide seperti ini bertahun-tahun sebelumnya, pertanyaannya, apakah mungkin?

Ini dilema desain rumah gratis:
  • Untuk klien, uang untuk membangun rumah tidak sedikit, dan upaya untuk menabung dan mencicil pinjamannya sungguh berat. Dengan mengeluarkan 'biaya tambahan' lagi berupa jasa arsitek, tentunya akan menambah beban menjadi lebih berat.
  • Untuk arsitek, bila desain rumah gratis, lalu kita hidup dari mana? memang ada scheme 'design and build' yang bisa jadi jalan keluar, tapi bila anda melihat posting2 saya sebelumnya, justru cara ini malah bisa lebih boros buat klien (secara umum).
  • Untuk klien, pertanyaannya adalah, yang namanya gratis, tentu akan berbeda dengan kualitas desain yang 'dibayar', namanya juga barang gratisan, sementara anda tentu ingin agar rumah ini menjadi rumah yang baik.
  • Untuk arsitek, bila kita memberikan desain rumah yang gratis, di khawatirkan 'value' dari arsitek justru semakin lemah. Alias, semakin sulit orang ingin memberikan fee yang 'baik dan wajar' kepada arsitek.
  • Untuk klien, terkadang bukan selalu masalah uang, arsitek dengan 'fee yang terjangkau' rata2 adalah arsitek yang kurang berpengalaman, atau desainnya 'kurang bagus'. Sementara 'arsitek yang bagus/punya nama' rata2 mereka hanya melirik proyek dengan fee yang super tinggi, atau proyek yang bergengsi saja. Belum lagi waktu yang disediakan, tentunya sangat sedikit, alias sang arsitek 'super sibuk'.
  • Untuk arsitek, bila kita memberikan desain gratis, itu artinya desain yang 'seadanya' atau 'instant' saja, mungkin dapat diartikan desain yang hanya bisa dijadikan acuan saja, bukan gambar kerja resmi.
  • Untuk klien, bila anda mendapatkan desain gratis seperti ini, bagaimana pun juga anda tetap memerlukan team lain yang handal, mungkin kontraktor yang sangat berpengalaman, atau mungkin juga bantuan arsitek muda agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda nantinya.

Intinya, memang gampang-gampang susah memberikan 'desain rumah gratis', di satu sisi, para arsitek sebenarnya tidaklah terlalu sulit meluangkan waktu untuk memberikan gambar ini, pada sisi lain, tanggung jawab atas gambar itu tetap ada, paling tidak, tanggung jawab moral. Selain itu, biasanya para arsitek ingin agar rumah tersebut terbangun dengan baik, dengan memberikan desain yang gratis, kemungkinan para arsitek tidak akan terlibat dalam pembangunannya, sehingga sulit untuk mengontrol hasilnya.

Sebenarnya ada cara lain yang dapat digunakan.

bukan memberikan 'desain rumah gratis', tetapi yang diberikan adalah "inspirasi desain rumah".

Bila bersifat inspirasional, maka, 'karya' sang arsitek adalah "inpirasi"nya, bukanlah produknya.

Banyak pemilik rumah yang sebenarnya, punya dana, namun sulit untuk mencari arsitek yang cocok dengan kebutuhannya. Sulit disini bisa diartikan, tidak mengenal arsitek yang 'dapat dipercaya', tidak kenal satu pun arsitek, lokasi tanahnya berada didaerah yang cukup jauh (dari arsitek yang dia inginkan), atau punya arsitek namun ingin masukan/ide dari karya desain arsitek yang lebih senior (misalnya).

Untuk kasus seperti itu, maka gambar "inspirasi desain rumah tinggal" memang diperlukan.

Saya pun, cukup sering di'hire' oleh klien dari luar Indonesia, dari negara2 yang sangat maju hanya karena mereka ingin 'inspirasi desain' dari saya. Yang mereka 'butuhkan' bukan arsitek yang dapat membangun (tentu banyak di negara tersebut) , tetapi yang mereka inginkan adalah (mungkin), ide dan inspirasi dari karya saya. Desain saya lalu mereka 'tweak'sesuai dengan kebutuhan/regulasi di negara tersebut.

Berpikir seperti kasus ini, sebenarnya, kita para arsitek, sangat dimungkinkan untuk memberikan kepada 'siapa saja', gambar "inspirasi desain rumah tinggal" ini. Bisa gratis, atau dengan fee yang sangat terjangkau. Selama sang klien mengerti 'aturan mainnya' bahwa gambar ini hanya bersifat, inpirasional saja...

Thursday, 18 September 2008

Arsitek cuman gambar doang kok mahal banget ya...












Untuk saya yang arsitek, masih kaget mendengar komentar seperti itu...tetapi,

Apakah saya tidak akan berkomentar yang sama tentang dokter? lawyer? montir? financial planner?

Intinya, kita memang masih sulit untuk menerima 'kenyataan' tentang 'the power ofthe brain'.

Mungkin ada baiknya kita berpikir sejenak tentang 'para konsultan' ini..apakah benar fungsi mereka hanyalah sekadar 'ngomong doang', 'gambar doang', 'masak doang'?

Atau apakah sentuhan mereka yang dapat merubah yang jelek menjadi baik? yang salah menjadi benar? yang sakit menjadi sehat?

Apakah Paris akan seperti "paris" yang kita kenal, bila dikerjakan oleh 'arsitek' yang 'cuman gambar doang'?

Think About it..

(foto diatas saya ambil diatas bis di Paris...memang fantastik)

Tuesday, 19 August 2008

Help Me to make a better book..


Saya sedang menulis buku yang akan di rilis sebentar lagi, yang berisi tentang tips, atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sekitar 'berkarir menjadi seorang arsitek'.

Sementara ini tidak bisa cerita banyak tentang isi bukunya, namun, walau sudah hampir selesai, saya rasa ada baiknya meminta input dari teman-teman, yang sekalian ingin bertanya tentang hal karir ini. So, bila ada, silahkan email ke desainrenanda@yahoo.com dan sekalian tulis nama dan alamat anda (note: email ini bersifat pasif dan jangan digunakan untuk kontak langsung dengan saya)

bila pertanyaan anda saya gunakan dalam buku ini, saya akan mengirimkan gratis 1 buku ini, untuk dalam negeri saja ya, yang ada diluar negeri, bisa kasih alamat lain/teman/keluarga disini. Maksimal buku yang akan saya berikan berjumlah 100 buah.

Berikut contoh-contoh pertanyaannya:
- Bagaimana bila saya jenuh mendesain?
- Kapan waktunya saya membuat jasa desain sendiri?
- Kok saya susah mendapatkan klien?
- Kenapa kontraktor susah diajak kerja sama?
- Saya ingin jadi arsitek, namun tidak berbakat menggambar, apa bisa?

Jadi isi dari email itu hanya berupa (contoh)

********

Subject: Isi Buku "Untuk Arsitek"

Pertanyaan: Bagaimana saya tahu bila saya benar-benar berbakat menjadi arsitek?

Pengirim: Angelina Lopez, Jl.Kebayoran Baru No.1 Jakarta (etc, alamat kirim lengkap untuk kurir lah)

********

Pertanyaan sekitar, kuliah, profesi, bekerja di kantor arsitek, klien, kontraktor, desain, proses, kreatifitas..apapun yang ada di benak anda saat ini.

Cheers,

Raul Renanda

Friday, 8 August 2008

Rumah Tinggal...Wish List?

Oke, kali ini saya mencoba mengingat apa wish list kita untuk rumah idaman kita (gak berurutan, apa yang ada dikepala saya saat ini saja...)

  • Ada ruang-ruang yang kita butuh kan (tentunya), jumlah kamar dan luasnya 'cukup' seperti yang diperlukan...
  • Flow atau aliran jalan antar ruang-ruang tersebut enak dan terkoneksi dengan semestinya
  • Ada perbedaan antara ruang umum (ruang tamu, keluarga, teras depan) dengan ruang private (kamar tidur, kamar mandi, juga hubungan antara area owner dengan area servant)
  • Aliran udara masuk kedalam rumah
  • Pencahayaan cukup terang disiang hari
  • Desain exterior sesuai dengan 'image' yang kita inginkan, apakah menunjukkan kesuksesan, atau 'different/istimewa', canggih, humble, nyaman dsb.
  • Desain interior yang cantik ataukah yang nyaman
  • Penataan ruang sejalan dengan Fengshui, arah rumah dan bukaan juga mengikuti anjuran ini...
  • Rayap! jauh2 (apa memang benar2 ada rumah 100% bebas rayap? mungkin kita kembalikan ke material, rayap = kayu, ada kayu, ada rayap, bila rumah kita dari kaca/besi/plastik/kain logikanya gak ada makanan rayap, ya gak ada rayap..harusnya)
  • Nyamuk dan lalat, hampir gak mungkin gak ada kali ya? juga tikus..pasrah aja..
  • Rumah gampang perawatan...sebenarnya tidak ada istilah gampang perawatan, inti dari perawatan adalah niat merawat...kalo sudah cinta, mau kayak apa juga kita rela merawat...
  • Rumah aman dari 'serangan luar'
  • Rumah aman dari 'serangan dalam' alias 'little monster' (istilah favorit saya untuk anak2 saya yang 'bandel tapi lucu'...)
  • Rumah dengan pencayahaan yang terang berderang, atau rumah dengan pencahanyaan dramatik/keren...
  • Rumah hemat energi...walau segala hiruk pikuk tentang 'green' kayaknya keren dan penting, tetep akhirnya yang bisa kita rasakan ketika "hit our wallet", satu juta cerita tentang bahaya polusi pemakaian bensin berlebihan, kita gak perduli, tapi satu kenyataan harga bensin bikin sakit perut (saya menghamburkan 5-7 juta untuk bensin sebulan !!..padahal jarak pergaulan saya relatif pendek, gak bisa bayangin teman2 yang lain yang rumah dan aktifitasnya jauh2) baru kita ngerti ngapain pake mobil boros dan jalan jauh2....dan listrik tentunya yang hemat...
  • well segitu dulu... ada ide lainnya?
Wish list kayak gini, perlu kita miliki sebelum kita membangun/mendesain rumah, dari daftar keinginan ini, nanti ada beberapa hal yang saling 'bertabrakan'..kita harus memilih...

Kita kembalikan ke pilihan bukan?

Tuesday, 5 August 2008

1%




“Genius was 1 percent inspiration and 99 percent perspiration.” Edison.

Arsitek/Desainer anda, adalah sang 'satu persen'....sebuah peran 'kecil' yang justru menentukan segalanya...