Saturday, 14 February 2009

Tamu Arsitek Kita : Dedy Rusli


Review oleh Raul Renanda

 

Rumah ini direncanakan untuk dibangun di tanah dengan luas 500 meter persegi, dengan fungsi 3 kamar tidur dalam 2 lantai. Lantai dasar dibuat suasana terbuka dengan fungsi aktifitas sehari-hari, seperti ruang keluarga, ruang makan, dapur dan ruang tamu. Area service seperti ruang jemur, cuci dan kamar pembantu dibuat terpisah agar privasi pemilik tetap terjaga, sementara di lantai 2 difokuskan untuk menjadi area kamar tidur, untuk 2 orang anak, dan 1 kamar tidur utama. Juga terdapat ruang belajar yang dekat dengan area terbuka yang juga menjadi area tangga utama.

Dedy Rusli, sang arsitek, mengimpikan sebuah rumah yang simpel dan sederhana, memiliki ruang yang dapat dipergunakan disetiap sudutnya. Ia ingin rumah tersebut terasa sangat terbuka, namun tetap terjaga privasinya, hal ini yang menyebabkan taman berada didalam dinding pembatas yang tinggi, sehingga dari arah luar, rumah ini terkesan tertutup namun tidak arogan.

Gaya arsiktektur yang Dedy usung dapat dikatagorikan sebagai desain rumah modern, namun bila dipadukan dengan material-material alami, maka rumah ini pun tidak akan terkesan kaku, apalagi bila nantinya, sang pemilik rumah menggabungkan elemen lansekap yang lebih rindang dan tropikal.

Pada saat ini, orang tidak lagi takut untuk menggunakan desain rumah dengan atap datar, karena, dengan trik tertentu, rumah dengan atap datar tidak selalu berarti rumah yang panas dan mudah bocor. Bahkan dengan menggunakan atap yang datar, pemilik pun sebenarnya, masih dapat menggunakan area atap untuk kegiatan ‘outdoor’ yang dapat dilakukan dimalam hari, untuk digunakan sebagai roof garden untuk acara-acara sosial.

Hal yang terpenting dari mendesain rumah bergaya moderen adalah kesan ringan harus sangat terasa, hidari elemen arsitektural yang terkesan berat dan kokoh. Material dapat dicampur antara material alami dan metal. Struktur dari baja sangat dianjur, untuk memberikan kesan ringan tersebut. Bila masih terasa berat, beberapa elemen ornamental dari kayu dapat digunakan dibagian dinding, terutama di area yang tidak terkena hujan. 


*****

Dedy adalah sarjana arsitek lulusan Universitas Katolik Parahyangan 15 tahun yang lalu, dengan modal pendidikan lokal ia mampu menjadi Associate Architect di konsultan arsitektur Barker Rinker Seacat Architecture di kota Denver di Amerika Serikat. Dedy sudah 10 tahun tinggal dikota tersebut. Sebelumnya ia bekerja di Jakarta, di PT. Atelier 6 Jakarta sejak ia lulus.

Thursday, 12 February 2009

Pada akhirnya, Ini rumah kita juga....

Kembali saya mencoba menganalogikan antara profesi Dokter dengan Desainer rumah tinggal.

Terkadang kita terkejut bila sang Dokter menyarankan menggunakan obat tertentu yang mahal, atau cek laboratorium yang heboh, tentu kembali dengan biaya yang tinggi. Apalagi dengan 'tren' rumah sakit kelas atas yang memang di posisikan sebagai rumah sakit dengan peralatan canggih sekali. Bisa saja, kita berpikir beberapa kali sebelum 'meng-iya-kan' saran tersebut.

"apakah memang diperlukan obat/test tersebut? jangan-jangan ini hanya akal-akalan pihak rumah sakit untuk meraih untung"

Pasien yang berpikir seperti itu, tidak dapat disalahkan, karena memang banyak cerita, yang belum tentu benar juga, tentang 'praktek-praktek' seperti itu. Diseluruh dunia, cerita itu selalu aja ada. 

Tetapi disisi lain, pasien juga kebingungan, bila saya tidak menuruti saran tersebut, apa yang akan terjadi? apakah saya dapat bertambah sakit? atau apakah saya akan sulit sembuh?

Ujung-ujungnya, masalah kepercayaan.

***

Bila sang arsitek atau interior desainer mengusulkan hal yang hampir serupa, material yang mahal, furniture yang 'aneh', jasa konsultan tambahan yang 'gak umum', pasti ada pertanyaan di diri kita, apakah ini cuman akal-akalan mereka saja agar dapat uang tambahan?

Kembali lagi, ujung-ujungnya, adalah masalah kepercayaan. Disisi lain, kita toh tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menurutinya. Tinggal masalahnya, harus berani memutuskan, percaya akan rekomendasinya, atau tidak.

Karena, pada akhirnya, itu rumah kita juga.

Seperti anjuran dokter, pada akhirnya, itu tubuh kita juga.

Seperti tawaran orang salon, untuk memakai shampoo tertentu, pada akhirnya, itu rambut kita juga.

Dokter, Hair Dresser, Montir dan Arsitek, hanya dapat memberikan anjuran saja. Kita sebagai pemilik rumahlah yang menentukan, menuruti atau tidak.

Wednesday, 4 February 2009




















Bila kita ingin bertemu dengan 'calon arsitek' rumah kita, pastikan, bahwa kita akan mempercayakan sepenuhnya kepada sang arsitek, atau kita ingin lebih 'mengontrol' desain rumah tersebut.

Kekeliruan persepsi ini sering terjadi, ada kala kita kecewa karena 'si arsitek keras kepala', tidak mau mengikuti keinginan kita, atau juga terjadi sebaliknya, kita merasa 'si arsitek tidak punya ide', alias selalu menunggu apa maunya kita...

Dua 'jenis' arsitek ini ada. Jangan salah pilih.

;-)




Sunday, 1 February 2009

Just Like Buying Porn Movie....

(Liat videonya disini - matiin musiknya ya..)

Hari ini saya melihat acara favorit saya, Top Gear (www.topgear.com), yang sedang membahas mobil "paling cantik yang pernah dibuat , Alfa Romeo C8

Saya tidak akan bercerita tentang mobilnya, karena tentu kita sedang berbicara tentang desain rumah tinggal, namun ada persamaan diantara keduanya, kita bicara DESAIN.

Jezza (pembawa acara), menceritakan beberapa kekurangan dari mobil ini....yang menurutnya tidak akan pernah menjadi masalah.

Segala kekurangan dari sebuah karya desain, baik dari segi logik seperti fungsi, perawatan, kekuatan dsb, tidak menjadi masalah, bila hati kita sudah 'yangkut'.

Buat Jezza, memikirkan kekurangan mobil Alfa Romeo ini, seperti..

"buying a porn movie, for its plot"

Sebuah desain, termasuk desain rumah tinggal kita, harus berbicara ke hati kita, bukan ke kepala kita. Sebuah rumah yang mengikuti 100% aturan logika, adalah, penjara.

Atau untuk saya, bila kita mengiginkan 'sesuatu' dalam hidup kita, walau hal tersebut melawan semua logika...

That's Love. Design = Love.

Sunday, 11 January 2009

Siapa yang menentukan desain? Owner atau Arsitek?

Jawaban yang sesuai kenyataan : Owner.

Kita sebagai pemilik, justru adalah orang yang menentukan bagus tidaknya arsitektur di negeri kita, bukan arsitek.

Kok aneh ya? kan arsitek yang menggambar?

Jawabannya: Tetapi siapa yang memilih arsitek itu?, siapa yang menentukan desain seperti apa yang dipakai? siapa yang menentukan budget dan waktu pelaksanaan? kita sebagai owner yang menentukan.

Bila misalnya kita mengadakan pesta, dan mengundang penyanyi untuk entertain tamu kita, nah, kita lah yang menentukan "siapa" yang menyanyi bukan? jenis musik yang diusung, dan bahkan pada beberapa kondisi, lagu apa yang dinyanyikan...Segala macam musisi ada, segala macam jenis musik ada, segala jenis lagu ada. Tetap kita sebagai "owner" yang menentukan suasana pesta kita.

Jadi, walau kita menghormati para arsitek yang telah mendesain bangunan dengan indahnya, acungan jempol justru harusnya diberikan kepada, sang owner.

Wednesday, 24 December 2008

Setiap Rumah Punya Kepribadian Pemilik...






























Setiap rumah yang kita bikin, adalah cerminan dari diri kita sendiri. Dan setiap desainer yang baik, mengerti akan hal itu. 

Suka atau tidak suka dengan Bentley milik Paris Hilton ini, secara tidak langsung ia menyatakan, memang ini Bentley, tetapi ini Bentley-nya Paris...

Warna pink dari mobil ini, berikut dengan interior dan asesoris lainnya, tidaklah murah, Paris, pasti membayar extra mahal untuk membuat mobil ini 'spesial' di hati nya. 

Rumah kita juga sebenarnya sebuah "pink bentley", yang kita buat khusus agar menjadi bagian dari kita sendiri, namun, juga kita perlu sadari, tidak semua orang bisa mengapresiasikan dengan baik, seperti yang kita harapkan.... 

Sunday, 14 December 2008

Rumah Tipis




















Punya tanah terbatas namun ingin fungsi lebih banyak?

Kita memang aneh, terkadang ingin sekali punya rumah besar, dan mengeluh mahalnya harga tanah. Sebenarnya, option tersebut ada, namun berarti kita harus tinggal jauh dari pusat bisnis. Dahulu, mungkin tidak terlalu jadi masalah, sekarang, selain berurusan dengan macet, biaya transportasi pun menjadi kendala tinggi. 

Tren yang ada justru, kita akan bertahan dilokasi kita berada, atau bahkan ingin mencari tanah yang sangat kecil, namun berada dipusat kota.

Pilihannya adalah membuat rumah 'compact', rumah yang sangat kecil dan "tipis" didalam tanah yang sangat, sangat sempit.

Pola kegiatan pun harus dirubah, kita tidak bisa berharap 'layout' denah berfungsi seperti rumah pada umumnya. Rumah ini harus di desain sedemikian rupa, sehingga bagian dalam dari rumah terintegrasi dengan desain keseluruhannya.

Rumah Kompak ini, tidak selalu berarti rumah murah. Ide rumah ini ideal sekali, terutama bila kita berada didalam lingkungan dimana, biaya pembangunan rumah ini lebih murah dari harga tanah tempat kita berada.

Misalnya, biaya membangun rumah tersebut 3 juta per meter, maka, bila tanah kita berada dilokasi 'utama' dimana tanah kita berharga diatas 3 juta permeter, ide rumah kompak ini, dapat kita terapkan.

"ideal"nya lebar rumah minimum adalah 3.5 meter, namun, seperti yang kita lihat di foto2 ini, terutama di kota2 besar di Jepang (dimana harga tanah selangit), lebih kecilpun, tidak menjadi masalah.