Wednesday, 12 September 2007

gentle reminder : "apa ya yang bikin kurang bagus?"

anda tentu sudah memiliki desainer yang baik, keinginan yang sudah terpenuhi dalam perancangan rumah anda, bila hal itu telah terjadi, maka kadang kita terbuai dengan angan-angan atau euphoria desain rumah anda...pada satu sisi hal ini boleh-boleh saja, toh anda telah melalui banyak hal sebelum mendapatkan hasil yang baik seperti ini.

nah, ini untuk anda yang merasa bagus saja tidaklah cukup, ini untuk anda2 yang ingin rumah anda, exceptional, remarkable, atau special.

kadang menjadi kritis akan diri sendiri adalah jalan untuk menjadi sukses. Intinya, bila anda puas, harap take a break dan cari tahu, "apa ya yang bikin kurang bagus?" dan berusaha untuk mengkoreksi kekurangan tersebut.

Singkat kata,

if it's perfect. improve it.

gentle reminder; bila anda dengan bangga melihat begitu bagusnya rumah anda, it's time to ask; "apa ya yang bikin kurang bagus?"

Sunday, 26 August 2007

Ketika harus berhenti....

Selayaknya sebuah proyek, apapun proyek tersebut, baik merencanakan acara perkawinan, ulang tahun, trip ke luar kota, program pelatihan sampai rock concert, selalu ada hal-hal yang terjadi diluar kehendak kita, ada kalanya segala obstacle dapat dilalui namun ada kalanya memang harus berhenti atau quitting adalah jalan yang terbaik. Oh ya, begitu juga dengan perkawinan dan romance tentunya ;-)

Tentu pada saat anda membangun rumah anda, hal ini juga akan dijumpai, kali ini saya hanya fokus sekitar isu faktor apa saja yang sebaiknya anda mengganti team kerja anda:

Buat Pemilik:
- Desainer sulit untuk mengikuti arahan desain yang anda harapkan
- Desainer bekerja dalam waktu yang sangat lama/diluar waktu yang disepakati
- Desainer menolak untuk memberikan alternatif atau pemecahan permasalahan desain
- Kontraktor bekerja dalam waktu yang sangat lambat tanpa ada penjelasan
- Kontraktor membuat keputusan yang berhubungan dengan finansial anda tanpa persetujuan
- Kontraktor tidak memberikan material yang sesuai diharapkan
- Kontraktor tidak membetulkan kesalahan yang berhubungan dengan kualitas kerja

Pada umumnya permasalahan terjadi di isu seperti:
- Perbedaan arahan desain antara pemilik dan desainer
- Waktu kerja desainer dan kontraktor yang diluar kesepakatan bersama
- Pembengkakkan dana yang dibutuhkan tanpa ada solusi baik dari desain maupun pelaksanaan.

Adakalanya, faktor yang harus dipertimbangkan oleh anda sebagai pemilik proyek sebelum memutuskan hubungan kerja ini adalah:
- Apakah dengan mengganti team atau salah satu team ini dapat memberikan hasil yang lebih baik?
- Apakan anda sudah ada calon pengganti, ataukan calon pengganti siap untuk memberikan hasil yang lebih baik
- Faktor kerugian dari pihak anda sudah pasti akan muncul waktu proyek yang mundur lebih lama, dan pembiayaan akan lebih tinggi, apakah dengan memutuskan kerja dengan team ini 'worth the hassle'?


Read: Seth Godin's The Dip (dijual di kinokuniya)

Saturday, 18 August 2007

Rumah Hook dan desain rumah modern

Pertanyaan :
1. Bagaimana dengan desain rumah di tanah "hook"?
2. Apa saja tipe rumah modern?


Hi, XXXX

Terima kasih telah menghubungi kami, untuk tanah di hook, ada baiknya memperhatikan kedua sisi jalan, dimana faktor GSB (garsi sepadan bangunan) akan mengurangi luas tanah yang dapat dibangun (rata2 di jakarta 4 m, tapi bisa 6-8 meter juga bila dijalan besar).

Dan juga dengan adanya 2 muka, maka posisi denah dan tampak menjadi "tidak biasa", pada umumnya kita kesulitan untuk menentukan mana sisi depan rumah. Dilain sisi, tampak rumah akan menjadi menarik, namun juga bisa diartikan biaya pembangunan menjadi sedikit lebih tinggi dari pada rumah dengan satu muka (depan).

Untuk desain modern, mungkin saya bisa istilahkan ada 4 tipe :

1.tipe minimalis 'murni' (biasanya dengan atap datar, bangunan simple dan kotak2)
2. tipe modern tropis, (biasanya dengan bentuk atap pelana - lebih sering disalah artikan dengan 'minimalis' - ini tipe paling banyak kita liat)
3.Tipe modern progressive (biasanya terkesan 'high tech')
4.classical modern, yaitu bangunan dengan prinsip bangunan classic yang sangat disederhanakan.

Tipe ke 2 sangat umum dipakai, disatu sisi, desain ini banyak disukai orang karena tidak terlalu jauh dari apa yang kita tahu dengan "desain rumah"...namun desain seperti ini sangat menjamur, bila anda tidak ingin terlalu menonjol, tipe ini sangat cocok,

bila anda termasuk yang ingin tamplil "beda", "cool" maka tipe 1 dan 3 bisa diterapkan (karena tidak semua orang berani), sedangkan tipe ke 4 cocok bila ingin punya desain yang long lasting, atau menjadi desain kompromi antara classic dan modern (terutama bila terdapat perbedaan keinginan antara anda dan pasangan anda, misalnya).

;-)

Thursday, 7 June 2007

Desain/Style : Siapa yang punya?

Siapa yang memiliki desain/style proyek rumah tinggal? Anda sebagai owner? atau kan desainer sebagai, well, desainer?

Bagaimana pada akhirnya, rumah impian anda di desain tidak seperti yang anda harapkan?
Bagaimana pada akhirnya, bila sang desainer merasa rumah tinggal ini tidak sesuai dengan harapannya?

Menjelaskan arahan desain anda kepada sang desainer pada awal2 pertemuan adalah sangat penting, karena setiap pihak - klien dan desainer - mempunyai 'sense of beauty' sendiri2. Bila anda berada pada posisi yang sama, itu adalah hal yang sangat baik. Bila terdapat perbedaan pandangan, maka, salah satu harus berani 'bertanggung jawab' atas style yang ditentukan.

Apakah anda harus mengalah dan mengikuti keinginan desainer? - toh memang itu tugas dan keahliannya (hal yang selalu ia pelajari)
Apakah justru sebaliknya, desainer yang harus mengikuti keinginan anda? - toh ini memang rumah anda (juga ini uang saya)

Pada suatu kasus kompromi sangat dianjurkan, karena memang dalam urusan style, sulit kita menentukan benar atau tidaknya; Namun pada satu sisi, kompromi justru memperlemah 'kekuatan desain' itu sendiri (master of none; gak begini dan gak begitu = kacau).

Secara pribadi sungguh sulit saya menganjurkan langkah yang mana diambil, karena saya tahu ada proyek yang menjadi baik karena klien turut campur dalam desain, juga ada proyek yang 'kacau' justru karena sang desainer terlalu mengikuti apa keinginan desaner.

Yang terbaik, anda harus bersiap untuk mengambil keputusan; Semuanya kita kembalikan kepada rasa percaya terhadap desainer kita atau tidak.

Wednesday, 23 May 2007

Pertimbangan-pertimbangan....

Time Vs. Budget Vs. Design Vs. Quality

Setiap keputusan dalam pembangunan rumah, selalu harus berhadapan dengan prioritas elemen2 diatas...

Apakah waktu yang menjadi prioritas? apakah desain? apakah kualitas (pekerjaan)? juga apakah pendanaan?

Walau kita selalu ingin semuanya sempurna, kita juga tahu, dalam kenyataannya, selalu ada yang di korbankan.

Mungkin sangat bisa di debat kesimpulan dari saya, yaitu:

Dana - masih bisa dicari lagi...

Waktu - se"lama-lama"nya pembangunan atau penggambaran, akan lebih lama waktu pemakaian rumah itu...

Kualitas Pekerjaan - beberapa kekurangan, masih dapat dibetulkan kemudian hari (bocor, retak etc)

Desain - akan tetap bertahan bertahun2 selama rumah anda tinggali, desain rumah yang anda suka, akan tetap ada selamanya...., desain rumah yang "tidak sukses" juga akan tetap akan terlihat, selama rumah itu ada...hanya satu cara untuk memperbaikinya, rata tanah, ulang membangun kembali (atau renovasi besar2an)...

Bila kita melihat bangunan "lama" seperti bangunan eks kolonial yang masih bertahan; Istana negara, rumah2 tua di menteng, gedung2 lama di daerah Kota (jakarta)...apakah terlintas di benak anda isu-isu pada saat bangunan tersebut pada masa penggambaran dan konstruksi? (waktu yang molor, dana yang membengkak, perkerjaan yang kurang baik) ataukan kita pada saat ini menikmati sebuah hasil desain yang bagus?

;-)

Tuesday, 15 May 2007

Mendesain rumah sesuai dengan karakternya














Rumah adalah impian kita semua, bahkan mungkin untuk sebagian dari kita, rumah adalah segalanya. Bertahun-tahun kita bermimpi dan berupaya semampu kita untuk dapat mewujudkannya, karena rumah, untuk sebagian besar orang adalah investasi terbesar dalam hidupnya.

Namun terkadang impian tidak selalu sesuai dengan kenyataan, terutama karena kesepatan dan budget yang terbatas. Sering kali saya menemukan dimana impian dari klien saya 'tidak dapat terwujud' karena keterbatasan-keterbatasan tersebut. Banyak diantaranya mengiginkan rumah idaman yang sayangnya, menurut saya sulit diwujudkan pada situasi yang ada.

Selain budget, kondisi dan bentuk tanah juga sangat mempengaruhi desain rumah anda. Setiap tanah, mempunya 'cerita' nya sendiri, cerita yang memerlukan karakter yang sesuai dengan alur yang sudah disediakan. "Pemaksaan" desain tertentu pada lahan yang terbatas seringkali menghasilkan desain yang "sembrono".

Misalnya, pada lahan yang kecil, dari pada membuat bangunan yang "terlihat besar", mungkin ada baiknya kita membuat bangunan "mungil" yang menarik.

Pada lahan yang luas, dari pada membuat satu rumah berukuran raksasa, mungkin lebih baik mendesain rumah yang terdiri dari berbagai bangunan terpisah dengan landscape yang menarik.

Pada posisi tanah pojok, ada baiknya membuat rumah "berkarakter khusus", mungkin ada bagian yang menjadi "tower".


Pada lahan memanjang dan dipinggir jalan besar, mungkin yang terbaik justru menempatkan area 'servis' di bagian depan dan belakang justru sebagai 'private area'…

Style juga mempengaruhi, seperti; Desain rumah classical, lebih menuntut ke-simetrisan. Desain rumah modern, lebih cocok pada kondisi tanah yang tidak "simetri", desain rumah tropis mungkin lebih baik untuk lingkungan yang masih memiliki banyak pepohonan, rumah diantara area komersial (disamping ruko atau banyak toko-toko kecil) mungkin ada baiknya memiliki karakter yang simple dan "kotak"…

Setiap kondisi bentuk tanah dan lingkungan, terkadang membutuhkan karakter desain yang memang sudah menjadi 'jodoh'nya. Memang sangat disayangkan, bila karakter tanah tersebut menuntut desain yang berbeda dengan impian anda, namun mungkin ada benarnya istilah 'tak kenal maka tak sayang', jadi desain yang baik, besar kemungkinannya membuat anda jatuh cinta dari pada "jodoh" yang dipaksakan ;-)

Wednesday, 18 April 2007

Waktu, Kapan Lambat, Kapan Terlalu Cepat?

Background Story:

Saya di ajak oleh teman saya ke sebuah warung gaul di cipete, katanya Ikan Patin bakarnya enak banget, tapi " jangan ditungguin", karena lama sekali membuatnya. Mereka membakarnya tidak terburu-buru sehingga bumbunya meresap, memang bila kita memesan ikan bakar di restoran akan lebih cepat disajikannya, tapi karena pekerjaan mereka instan(cepat), tentu ikan bakarnya tidak sebaik disini. Kira-kira seperti saran teman saya.

Saya jadi berpikir mengenai waktu pekerjaan...

Pada saat itu, saya baru saja mendapat brief dari sebuah developer untuk membuat sebuah gerbang. Bukan salah mereka, dari awal pun, pada saat perkenalan, mereka sudah wanti-wanti untuk 'kerja dengan cepat'. Developer ini juga berkata bahwa proyek gerbang ini sangat penting buat mereka.

Yang ada dikepala saya, bila gerbang ini sangat penting, mengapa mereka justru terburu-buru mengerjakannya?

Bagaimana bila di sebuah restoran saya memesan "Steak"dan saya meminta kepada sang pelayan untuk membuatnya secepat mungkin? mungkin karena saya lapar, mungkin juga saya punya perasaan, toh saya sanggup membayar steak ini, "I have the money, and I want it now".

Tapi bila saya pikir baik2? saya tidak tahu apa yang terjadi di dapur merek, jangan-jangan mereka malah memakai microwave hanya untuk "kejar setoran" saja.

Dan bila akhirnya rasa steak itu tidak enak, saya tetap harus membayar toh?

**************

Salah satu 'kriteria' tanda seorang Arsitek/Interior bahwa mereka itu profesional adalah Ketepatan Waktu. Tidak hanya dalam pengertian punctual bila berjanji untuk bertemu (janji jam 3 sore, datang harusnya jam 3 sore...) juga dalam ketepatan janji untuk penyerahan gambar. Jangan lupa untuk meminta time schedule...

Nah, inti dari tulisan ini adalah tentang penilaian kita kepada waktu yang di tawarkan dari sang desainer, yang pada umumnya, justru 'diberikan' oleh sang klien.

"saya ingin membangun pada bulan oktober"...atau misalnya "saya ingin bangunan jadi di bulan november" selain itu juga bisa seperti "saya mau yang cepat"...tentu itu yang kita harapkan sebagai klien kepada sang desainer, kenapa? selain alasan-alasan khusus, (oktober adalah ulang tahun perkawinan, misalnya - atau November agar pada tahun baru kita bisa mengundang teman-teman ke rumah baru, atau tentu ada rasa, ya saya punya dana cukup, kok lama sekali sih untuk membangun rumah ini? kenapa menggambar saja susah?

Pada satu sisi, sang desainer juga dihadapkan dua pilihan. Pertama, tentu ia ingin proyek ini, baik karena alasan finansial maupun profesional. Kedua, ada rasa bahwa desain yang baik, tentu bukan desain yang 'instan'.

Terkadang yang terjadi adalah, Sang Desainer tergoda untuk memberikan waktu sesuai dengan yang anda minta demi untuk mendapatkan proyek. Namun, walau pada akhirnya sang Desainer dapat memenuhi waktu yang di inginkan, pertanyaannya adalah, apakah dia telah memberikan hasil yang terbaik? ataukan "instant"?

Untuk ini saya belum ada jawaban pasti, poin yang terpenting adalah hati-hati dengan permintaan waktu yang cepat, dan jangan pula sampai kebablasan proyek berjalan dengan waktu yang terlalu "bebas"....

(isu yang sama, juga berlaku ketika kita meminta perhitungan budget kepada kontraktor, apakah dengan biaya yang kita minta mereka akan bekerja serius? apakah mereka akan mengurai kualitas material?)

Target kita semua adalah : Proyek ini berjalan dengan baik, dan Proyek ini hasilnya "sempurna". Waktu dan Budget bukanlah target utama kita, dan tidak ada artinya bila hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Membangun rumah bukanlah pekerjaan 1+1=2...