Monday, 19 May 2008
Wednesday, 14 May 2008
Why Not?
(dari Tunagus M. Aziz Soelaiman, Arsitektur ITB - Forum IAI)
HAL-HAL YANG DIDAPAT DARI "GREEN FESTIVAL"
(AKSI MENYELAMATKAN BUMI)
A I R
01. Pemakaian air kita :
a. Sikat gigi : dengan keran, 1 menit = 6 L
dengan gelas = ½ L
b. WC flush : single flush = 6 L
dual flush = 3 L
untuk buang air kecil,
tekan flushing kecil
untuk buang air besar
tekan flushing besar
c. Cuci mobil : dengan ember = 75 L
dengan selang = 300 L
d. Cuci mobil/siram tanaman dengan selang selama 30
menit = 180 L
e. Mesin cuci : front loading = 100 L
top loading = 150 L
f. Cuci piring : keran (15 menit) = 90 L
baskom = 45 L
02. Keran / WC bocor, per hari membuang air
sia-sia 100 L
03. Rata-rata pemakaian air di Indonesia, per
orang per hari 144 L = 8
galon, sedang di kota per orang per hari 250 L = 13
galon
04. Pemakaian toilet shower lebih irit air
daripada gayung
LISTRIK
01. Matikan alat listrik saat tidak digunakan.
Jangan biarkan alat
listrik berada pada kondisi stand by, lepaskan
kabel dari stop kontak.
Gunakan stop kontak dengan tombol on / off agar
tidak perlu repot
mencabut/memasang kabel.
02. Pada kondisi stand by, alat elektronik masih
menggunakan listrik
sebesar 5 watt. Membiarkan TV, computer, tape, DVD
player pada kondisi
stand by selama 8 jam/hari berarti :
- melakukan pemborosan listrik sebesar 160
watt/jam/hari
- memboroskan uang sejumlah Rp. 35.000,- / tahun
- memboroskan emisi 43 kg CO2 / tahun
03. Hematlah listrik terutama pada pk. 17.00 -
22.00 karena pada saat
itu semua peralatan listrik pada umumnya dipakai.
04. Pakailah lampu hemat energi jenis CFL yang
ditandai dengan lpw
(lower per watt). Semakin tinggi lpw nya, semakin
effisien lampu
tersebut. Pilih lampu CFL dengan lpw lebih besar
untuk watt yang sama
HAL-HAL YANG DIDAPAT DARI "GREEN FESTIVAL"
(AKSI MENYELAMATKAN BUMI)
A I R
01. Pemakaian air kita :
a. Sikat gigi : dengan keran, 1 menit = 6 L
dengan gelas = ½ L
b. WC flush : single flush = 6 L
dual flush = 3 L
untuk buang air kecil,
tekan flushing kecil
untuk buang air besar
tekan flushing besar
c. Cuci mobil : dengan ember = 75 L
dengan selang = 300 L
d. Cuci mobil/siram tanaman dengan selang selama 30
menit = 180 L
e. Mesin cuci : front loading = 100 L
top loading = 150 L
f. Cuci piring : keran (15 menit) = 90 L
baskom = 45 L
02. Keran / WC bocor, per hari membuang air
sia-sia 100 L
03. Rata-rata pemakaian air di Indonesia, per
orang per hari 144 L = 8
galon, sedang di kota per orang per hari 250 L = 13
galon
04. Pemakaian toilet shower lebih irit air
daripada gayung
LISTRIK
01. Matikan alat listrik saat tidak digunakan.
Jangan biarkan alat
listrik berada pada kondisi stand by, lepaskan
kabel dari stop kontak.
Gunakan stop kontak dengan tombol on / off agar
tidak perlu repot
mencabut/memasang kabel.
02. Pada kondisi stand by, alat elektronik masih
menggunakan listrik
sebesar 5 watt. Membiarkan TV, computer, tape, DVD
player pada kondisi
stand by selama 8 jam/hari berarti :
- melakukan pemborosan listrik sebesar 160
watt/jam/hari
- memboroskan uang sejumlah Rp. 35.000,- / tahun
- memboroskan emisi 43 kg CO2 / tahun
03. Hematlah listrik terutama pada pk. 17.00 -
22.00 karena pada saat
itu semua peralatan listrik pada umumnya dipakai.
04. Pakailah lampu hemat energi jenis CFL yang
ditandai dengan lpw
(lower per watt). Semakin tinggi lpw nya, semakin
effisien lampu
tersebut. Pilih lampu CFL dengan lpw lebih besar
untuk watt yang sama
Monday, 12 May 2008
Arsitek Keras Kepala (lagi)
Buat saya, selain mendesain 'eksterior' rumah tinggal, sebuah proyek 'interior' terkadang cukup menarik perhatian saya, terutama bila rumah tersebut di desain oleh arsitek lain.
Entah kenapa bulan ini saya mendapatkan 2 buah proyek interior rumah tinggal, dari 2 karya arsitek yang berbeda.
Arsiteknya boleh berbeda, namun, keluhan dari sang owner..sama saja.Masing-masing arsitek 'keras kepala'. Alias, sulit untuk memenuhi keinginan sang owner.
Bedanya, yang proyek pertama saya tidak setuju dengan sang arsitek, sementara, 'anjuran' arsitek di proyek yang ke 2 justru saya 'mengerti' atau setuju. Yang pertama terkesan 'asal' keras kepala, sementara arsitek lainnya menunjukkan kesan 'alasan yang jelas'.
Mungkin pandangan saya terhadap kesan 'asal keras kepala' tersebut agak keras. Namun pada intinya, letak persoalannya adalah : alasan. Atau 'reasoning'.
Dalam perbedaan pendapat dengan klien, ada 3 hal yang berpengaruh; 2 hal pertama mutlak, sedangkan yang ketiga 'debatable':
1. Budget; sebuah usulah dari arsitek tidak boleh memberatkan sisi keuangan sang owner. Bahkan bila bisa, meringankan biaya pembangunan.
2. Waktu; sebuah usulan sebaiknya tidak menunda pekerjaan dilapangan.
Artinya, dari kedua poin diatas, tidak ada salahnya sebuah usulan tersebut berdampak biaya tinggi atau waktu yang menjadi lama, selama sang owner menyetujuinya.
Yang ke 3...Estetika.
Hal keindahan inilah yang sangat sulit di perdebatkan. Saran saya seperti ini, bila kita mencari arsitek karena alasan 'desain dia bagus', maka percayakan keputusan estetika kepadanya. Namun, bila alasan kita mencari arsitek karena 'alasan selain estetika' maka, jelaskan kepadanya, dari awal bahwa kita akan juga turut mengontrol sisi keindahan dari rumah tinggal ini....
dan bila anda sang arsitek...usahakan memberika alasan yang jelas, mengapa kita mengambil keputusan yang agak berbeda dengan keinginan sang owner. ..
Entah kenapa bulan ini saya mendapatkan 2 buah proyek interior rumah tinggal, dari 2 karya arsitek yang berbeda.
Arsiteknya boleh berbeda, namun, keluhan dari sang owner..sama saja.Masing-masing arsitek 'keras kepala'. Alias, sulit untuk memenuhi keinginan sang owner.
Bedanya, yang proyek pertama saya tidak setuju dengan sang arsitek, sementara, 'anjuran' arsitek di proyek yang ke 2 justru saya 'mengerti' atau setuju. Yang pertama terkesan 'asal' keras kepala, sementara arsitek lainnya menunjukkan kesan 'alasan yang jelas'.
Mungkin pandangan saya terhadap kesan 'asal keras kepala' tersebut agak keras. Namun pada intinya, letak persoalannya adalah : alasan. Atau 'reasoning'.
Dalam perbedaan pendapat dengan klien, ada 3 hal yang berpengaruh; 2 hal pertama mutlak, sedangkan yang ketiga 'debatable':
1. Budget; sebuah usulah dari arsitek tidak boleh memberatkan sisi keuangan sang owner. Bahkan bila bisa, meringankan biaya pembangunan.
2. Waktu; sebuah usulan sebaiknya tidak menunda pekerjaan dilapangan.
Artinya, dari kedua poin diatas, tidak ada salahnya sebuah usulan tersebut berdampak biaya tinggi atau waktu yang menjadi lama, selama sang owner menyetujuinya.
Yang ke 3...Estetika.
Hal keindahan inilah yang sangat sulit di perdebatkan. Saran saya seperti ini, bila kita mencari arsitek karena alasan 'desain dia bagus', maka percayakan keputusan estetika kepadanya. Namun, bila alasan kita mencari arsitek karena 'alasan selain estetika' maka, jelaskan kepadanya, dari awal bahwa kita akan juga turut mengontrol sisi keindahan dari rumah tinggal ini....
dan bila anda sang arsitek...usahakan memberika alasan yang jelas, mengapa kita mengambil keputusan yang agak berbeda dengan keinginan sang owner. ..
Monday, 28 April 2008
It's the layout.....stupid.
waduh, judul diatas memang terkesan...kasar sekali ya..
tetapi mungkin memang kita perlu 'warning' yang agak keras untuk benar-benar memahami tentang mendesain rumah yang baik. Memang banyak hal yang juga penting bila kita sedang mendesain rumah tinggal kita, tampak bangunan penting, sturktur yang baik juga penting namun dari berbagai hal yang penting-penting tersebut, tetap, layout rumah adalah yang terpenting...mengapa?
Kita harus kembalikan lagi ke tujuan kita membangun rumah, yaitu untuk berfungsi dengan baik sebagai wadah kita beraktifitas sehari-hari, sebuah shelter.
Ibaratnya seperti ini, apa gunanya sebuah mobil mewah yang tidak bisa berfungsi dengan baik?
apa gunanya sepatu mahal yang kesempitan?
apa gunanya televisi besar tanpa sinyal tv/video?
Sebelum kita melanjut membahas/membangun rumah kita, pastikan, layout rumah tinggal kita nantinya, sesuai dengan fungsinya dengan jelas.
Mungkin kita kesulitan untuk 'memaksakan' sang arsitek untuk mengikuti selera kita; mungkin kita sulit untuk meminta pembangunan yang lebih cepat kepada kontraktor kita.
Tetapi bila kita berhadapan dengan layout rumah yang 'aneh' atau dirasa tidak berfungsi semestinya, yang harus kita lakukan sebagai pemilik rumah adalah bersikap "ini rumah saya, dan saya ingin rumah ini berfungsi sebagaimana mustinya".
Bila sang arsitek bersikeras untuk memaksakan kehendaknya. Sudah saatnya anda mencari arsitek lain....
It's the layout stupid.
tetapi mungkin memang kita perlu 'warning' yang agak keras untuk benar-benar memahami tentang mendesain rumah yang baik. Memang banyak hal yang juga penting bila kita sedang mendesain rumah tinggal kita, tampak bangunan penting, sturktur yang baik juga penting namun dari berbagai hal yang penting-penting tersebut, tetap, layout rumah adalah yang terpenting...mengapa?
Kita harus kembalikan lagi ke tujuan kita membangun rumah, yaitu untuk berfungsi dengan baik sebagai wadah kita beraktifitas sehari-hari, sebuah shelter.
Ibaratnya seperti ini, apa gunanya sebuah mobil mewah yang tidak bisa berfungsi dengan baik?
apa gunanya sepatu mahal yang kesempitan?
apa gunanya televisi besar tanpa sinyal tv/video?
Sebelum kita melanjut membahas/membangun rumah kita, pastikan, layout rumah tinggal kita nantinya, sesuai dengan fungsinya dengan jelas.
Mungkin kita kesulitan untuk 'memaksakan' sang arsitek untuk mengikuti selera kita; mungkin kita sulit untuk meminta pembangunan yang lebih cepat kepada kontraktor kita.
Tetapi bila kita berhadapan dengan layout rumah yang 'aneh' atau dirasa tidak berfungsi semestinya, yang harus kita lakukan sebagai pemilik rumah adalah bersikap "ini rumah saya, dan saya ingin rumah ini berfungsi sebagaimana mustinya".
Bila sang arsitek bersikeras untuk memaksakan kehendaknya. Sudah saatnya anda mencari arsitek lain....
It's the layout stupid.
Tuesday, 22 April 2008
Pilih Arsitek yanh sesuai dengan kita...
Saat saya meliput sebuah rumah tinggal yang akan di tampilkan di salah satu TV swasta, saya berkesempatan untuk bertemu dengan sang pemilik rumah. Karena posisi saya sebagai 'orang yang independen', alias tidak ada hubungan dengan sang arsitek maupun yang punya rumah, saya berkesempatan menanyakan satu hal yang cukup penting (buat saya..);
"mengapa ibu memilih arsitek ini? apa dasarnya ibu menggunakan jasanya?"
Jawaban yang diberikan oleh yang punya rumah, sungguh masuk diakal, "saya memilihnya karena ia adalah arsitek yang mau mendengarkan keinginan saya, beberapa arsitek terkesan memaksakan kehendaknya kepada saya"...
Mendengar jawaban tersebut, saya sungguh mengerti apa yang ia maksud. Karena, memang ada teman saya yang menggunakan jasa arsitek yang cukup senior, sang klien pun harus bertemu dirumah sang arsitek (bukan di tempat klien seperti biasanya..) dan yang cukup mengejutkan buat teman saya itu, ketika mereka ada berbeda pendapat, teman saya justru 'diusir' dari rumah arsitek tersebut......sungguh menyebalkan?
and you know what?
Teman saya tetap menggunakan jasa sang arsitek, dan sangat bangga akan hasilnya.
Kedua contoh tersebut adalah sisi yang berbeda. Dimana, kedua tipe klien tersebut, memang sungguh berbeda.
Yang pertama, mengharapkan sang arsitek membantu mewujudkan rumah impiannya..
Yang kedua, mengarapkan sang arsitek dapat mereliasasikan 'karya terbaik' sang arsitek...untuk rumahnya...
Memang pada akhirnya, kita lah yang menentukan arsitek mana yang cocok buat kita. Kedua 'jenis' arsitek, yang memaksakan kehendaknya (agar desain rumah tersebut menjadi baik) dan tipe arsitek yang akomodatif (agar kita yang punya rumah merasa rumah tersebut 'milik' kita) pastinya dapat memberikan hasil desain yang baik...hanya pendekatannya yang berbeda..
Nah, untuk anda, arsitek mana yang cocok untuk rumah anda nantinya?
"mengapa ibu memilih arsitek ini? apa dasarnya ibu menggunakan jasanya?"
Jawaban yang diberikan oleh yang punya rumah, sungguh masuk diakal, "saya memilihnya karena ia adalah arsitek yang mau mendengarkan keinginan saya, beberapa arsitek terkesan memaksakan kehendaknya kepada saya"...
Mendengar jawaban tersebut, saya sungguh mengerti apa yang ia maksud. Karena, memang ada teman saya yang menggunakan jasa arsitek yang cukup senior, sang klien pun harus bertemu dirumah sang arsitek (bukan di tempat klien seperti biasanya..) dan yang cukup mengejutkan buat teman saya itu, ketika mereka ada berbeda pendapat, teman saya justru 'diusir' dari rumah arsitek tersebut......sungguh menyebalkan?
and you know what?
Teman saya tetap menggunakan jasa sang arsitek, dan sangat bangga akan hasilnya.
Kedua contoh tersebut adalah sisi yang berbeda. Dimana, kedua tipe klien tersebut, memang sungguh berbeda.
Yang pertama, mengharapkan sang arsitek membantu mewujudkan rumah impiannya..
Yang kedua, mengarapkan sang arsitek dapat mereliasasikan 'karya terbaik' sang arsitek...untuk rumahnya...
Memang pada akhirnya, kita lah yang menentukan arsitek mana yang cocok buat kita. Kedua 'jenis' arsitek, yang memaksakan kehendaknya (agar desain rumah tersebut menjadi baik) dan tipe arsitek yang akomodatif (agar kita yang punya rumah merasa rumah tersebut 'milik' kita) pastinya dapat memberikan hasil desain yang baik...hanya pendekatannya yang berbeda..
Nah, untuk anda, arsitek mana yang cocok untuk rumah anda nantinya?
Sunday, 20 April 2008
Sesuaikan Asesoris Rumah kita...

Minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk tampil di acara TV (one - home and living - sabtu) sebagai desainer tamu yang memberikan komentar/masukan kepada karya arsitek yang di tampilkan pada acara tersebut...
Secara garis besar saya tidak melihat adanya 'kritik' dari rumah tersebut, karena memang sudah dianggap baik. Namun saya menemukan hal yang 'tipikal' terjadi di rumah tersebut (dan juga di proyek2 saya), yaitu..
Problem dimana sang pemilik, masih mempunyai barang2 yang ia miliki dari rumah sebelumnya, biasanya berupa furnitur dan asesoris. Masalahnya adalah, sering kali furnitur dan asesoris (asbak, vas, pajangan, etc) tersebut tidak sesuai lagi dengan tema rumah baru tersebut..
Memang beberapa barang lama itu mempunyai 'nilai' sendiri, mungkin berupa hadiah dari orang yang penting, atau barang yang dulu kita beli mahal sekali namun sulit dijual dengan harga yang baik...atau sekadar bukan habit kita membuang barang tersebut..
Salah satu pemecahannya adalah;
Diskusikan dengan interior desainer kita, apa-apa saja barang yang akan tetap digunakan dirumah baru tersebut, nanti sang desainer akan memberikan masukan; apakah diposisikan secara khusus (area lain), atau di combine dengan asesoris baru agar lebih selaras.
Cara lain yang lebih ekstrim? karena kita memang ingin tampil baru, carilah asesoris yang sesuai dengan tema rumah kita, toh semahal2nya asesoris itu, tetap lebih penting nilai rumah secara keseluruhan bukan?
Foto: Milan Furniture Fair 2008
Wednesday, 16 April 2008
Simplicity Wins...(.Rumah Cutbray?)

Kita selalu ingin rumah kita tampil fantastik...keren..luar biasa..dan tentu trendy.
Bila kita cermati perilaku kultur yang trendy pada masa lalu; celana jeans - 70's 'cut-bray', 80's baggy, 90's 'holes'...terlihat pattern bahwa yang trendy, memang keren sekali....pada masa itu saja. Sementara, yang tetap bertahan, selalu yang classic cut...Levi's 501 misalnya.
Pada masa orang2 disekitar kita, para artis, foto model menggunakan fashion masa kini, celana jeans '501' bukanlah bagian dari trend pada saat itu, namun juga bukanlah desain celana yang 'norak'...desain yang bertahan disebut..classic.
Lalu bagaiman dengan rumah kita? apakan rumah kita termasuk golongan trendy seperti Cutbray? apakah lebih ke "normal"2 saja?..
Rumah yang di desain dengan prinsip simplicity, wins overtime...
Foto: Rumah Ludwig Mies van der Rohe
Subscribe to:
Posts (Atom)