Monday, 27 October 2008

Raul Renanda di Media October 2008


Media Indonesia Sabtu/Futurarc Magazine/Idea Renovasi Magazine...


Friday, 24 October 2008

di Colong dari Gizmodo.

Artikel di Gizmodo yang biasanya tentang gadgets, kali ini membahas tentang "relaxation room", saya gak tahan untuk ceritanya saya bahas disini. Kesimpulannya, persepsi kita terhadap Warna, Bau dan Suara, memang mempengaruhi kondisi emosional kita.

Yang uniknya, mereka anggap warna hijau bikin fresh, dan biru di langit2 mirip 'langit' yang bikin kita rileks...hmm..jadi inget wallpaper standard Windows? ruput dan lagit...sementara Mac OS 'galaxy'? apa artinya ya?


Kesimpulan?

Bila setuju warna berpengaruh, dan 'percaya' warna hijau (simbol rumput) dan warna biru (simbol langit) bikin kita tenang, somehow, di ruang kerja, kamar tidur, atau ruang lainnya yang ingin membuat kita lebih rilex, warna ini bisa di aplikasikan kepada asesoris2..misalnya bantal, vas bunga, karpet, ada kesan hijau...sementara untuk yang ditempel di dinding, seperti foto dan lukisan, bisa berwarna biru...

Kita coba saja...

Note 1: untuk suara, saya sendiri bisa lebih fokus bekerja bila mendengar suara air/hujan, makanya di Ipod saya, ada suara efek hujan.
Note 2: bener saya memang pake Windows vista (64bit) tapi di Mac Pro ;-)

Monday, 6 October 2008

Krisis! Harga Bangunan Naik!! Perlukan saya berhenti?

Perlu kah stop pembangunan? atau tunda proyek untuk tahun depan?

Saya sendiri pernah berpikir seperti itu, menunda, karena harga material tiba2 naek...

Walau ada ternyata saya sendiri tersadarkan akan satu hal.

Harga barang 'tidak pernah' turun. Bila iya, tidak drastis, sedangkan bila naik, ya menjulang tinggi.

Untuk kita yang berencana untuk membangun, tetaplah pada rencana ini. 
Untuk kita yang sedang dalam tahap membangun, menunda pekerjaan, dan membatalkan proses pekerjaan, terlepas dari harga material bangunan,  akan menyebabkan biaya semakin tinggi.

Lalu bagaimana bila kita tidak sanggup di 'tengah jalan'. 

Strategy staging. 

Fokus kepada stage yang krusial, terutama pada bagian eksterior. Pastikan bahwa, dengan biaya 'minimum' yang kita bisa pastikan ada, sudah tercakup dinding, atap, kaca, listrik, dan air.

Artinya, bila proyek ada kemungkinan berhenti, pastikan rumah tersebut "sudah berfungsi", yang berarti dapat dihuni. Walau dinding belum di cat, walau lantai belum terpasang semua.

Proyek dapat berjalan lagi, dengan membereskan bagian interior, landscape dan pendukung lainnya. Malah, mungkin ada baiknya pemencahan ini, sehingga kita tidak 'terburu2' menyelesaikannya, dan fokus kepada stage arsitektur, interior, landscape dsb.

Jalanin saja.

*selama masih dalam batasan rasional, tentunya.

Sunday, 5 October 2008

Arsitek Indonesia

Arsitek di Indonesia, juga seperti profesi lainnya di Indonesia, secara umum masih merasa 'dibawah kelas' profesi yang sama di negara2 lain. Rasa 'minder' dan anggapan masyarakat bahwa 'produk indonesia' dibawah rata-rata masih terasa dominan.

Namun bila kita teliti lebih lanjut, terkadang, perbandingannya lah yang tidak sesuai. Sering kita membandingkan para arsitek kita dengan arsitek 'kelas dunia'. Misalnya, arsitek top dari Amerika. 

Yang kita tidak sadari adalah, para arsitek top ini, juga merupakan 'arsitek top amerika', yang berarti, di mata arsitek 'umum' di amerika, merekalah yang paling bagus. Sementara, banyak arsitek di Amerika atau negara maju lainnya, sebernarnya, dapat kita anggap 'biasa' saja, atau tidak lebih bagus dari arsitek lokal.

Seperti misalnya, acara TV 'Sex and the City' dan acara TV lainnya yang sejenis, yang mungkin secara umum, kita anggap adalah bagian lifestyle dari warga di Amerika pada umum. Single adult woman yang penuh dengan 'kegiatan' seksual dalam hubungan dengan pria mana saja yang mereka suka. Terasa sangat liberal dan bebas dari kungkungan 'moral'.

Kembali lagi kita harus melihatnya, bahwa serial TV ini, adalah 'mimpi'nya orang Amerika juga, dalam arti, tidak realistis menggambarkan 'value' sehari-hari warga Amerika pada umumnya.

Apakah ada wanita2 seperti ini? pasti ada. Disini pun juga ada. Tetapi apakah ini menggambarkan lifestyle single woman di Amerika pada umumnya, jawabannya kemungkinan besar adalah tidak. Bahkan saya berani menebak banyak wanita di Amerika yang jauh lebih konservatif dibandingkan wanita di Indonesia.

Secara garis besar, manusia itu sama dimana saja.

Lalu hubungannya dengan arsitek di Indonesia apa?

Nasibnya hampir sama, dimana arsitek indonesia, menjadi korban image yang telah terbentuk selama ini, kelas kambing. Bila saya dilahirkan sebagai anjing, tetapi orang tua saya menggangap saya kambing dan memberi makan seperti layaknya kambing, teman-teman saya bilang saya itu benar kambing, guess what?walau saya berdiri didepan cermin, saya pun akan berkata, saya kambing.

Saya, dan arsitek indonesia lainnya, lupa untuk mengonggong.

Bila anda, sedang mencari arsitek untuk proyek rumah anda, hal yang terpenting justru memberikan motivasi kepada sang arsitek ini, agar dapat berani bekerja diluar apa yang selama ini ia kerjakan. Berikan tantangan dan dukungan kepadanya.

Mungkin anda merasa konyol untuk melakukan hal ini. But trust me, bahkan bila anda melihat sang arsitek ini sudah cukup baik hasilnya, tetap tantang ia agar bisa lebih baik lagi. Bangunkan arsitek ini dari ingatkan bahwa ia bisa mengonggong.

Saya sendiri sering kehilangan motivasi dalam bekerja. Dan klien yang baik, justru adalah para klien yang membuat saya 'menggonggong' lebih keras. Mengingatkan kepada saya, saya bukanlah, kambing.

Bila sang arsitek diberi motivasi, ia akan memberikan hasil yang baik, dan berarti, untuk para klien, itu adalah keuntungan yang luar biasa, dimana sang arsitek dapat memberikan hasil yang terbaik untuk kita.

Friday, 3 October 2008

Feng Shui Lagi....


Apakah Feng Shui bagian dari arsitektur?

Well, ada yang setuju, ada yang tidak. Yang tidak setuju mungkin berpendapat karena Feng Shui sifatnya tidak terukur/teruji, atau puluhan alasan 'akademik' dan 'profesional' lainnya...

Dan penjelasan itu saya rasa masuk akal.

Tapi, yang juga saya pikirkan, lalu bagaimana tentang efek warna? golden section? proporsi? emotional attachment? hirarki?

Apakah sebuah 'karya arsitektur' hanyalah sebuah 'benda' yang harus masuk akal?

Lalu kenapa kita 'suka' akan satu style tapi 'benci' akan style lain? (walaupun keduanya memiliki fungsi yang sama)

Mengapa saya harus memperhatikan 'simbol'2 tertentu dalam mendesain Gereja atau Mesjid?

Mengapa rumah tinggal, tidak bisa kita anggap sebagai 'our personal temple', dimana saya adalah Raja nya?

Untuk siapa arsitek mendesain rumah tinggal? Apakah rumah itu harus 'masuk akal'?

;-)


Thursday, 25 September 2008

Desain Rumah Gratis?

Bagaimana bila kita para arsitek memberikan desain rumah gratis?

Berita diatas, seharusnya membuat para calon klien 'kegirangan'..good news! Saya punya ide seperti ini bertahun-tahun sebelumnya, pertanyaannya, apakah mungkin?

Ini dilema desain rumah gratis:
  • Untuk klien, uang untuk membangun rumah tidak sedikit, dan upaya untuk menabung dan mencicil pinjamannya sungguh berat. Dengan mengeluarkan 'biaya tambahan' lagi berupa jasa arsitek, tentunya akan menambah beban menjadi lebih berat.
  • Untuk arsitek, bila desain rumah gratis, lalu kita hidup dari mana? memang ada scheme 'design and build' yang bisa jadi jalan keluar, tapi bila anda melihat posting2 saya sebelumnya, justru cara ini malah bisa lebih boros buat klien (secara umum).
  • Untuk klien, pertanyaannya adalah, yang namanya gratis, tentu akan berbeda dengan kualitas desain yang 'dibayar', namanya juga barang gratisan, sementara anda tentu ingin agar rumah ini menjadi rumah yang baik.
  • Untuk arsitek, bila kita memberikan desain rumah yang gratis, di khawatirkan 'value' dari arsitek justru semakin lemah. Alias, semakin sulit orang ingin memberikan fee yang 'baik dan wajar' kepada arsitek.
  • Untuk klien, terkadang bukan selalu masalah uang, arsitek dengan 'fee yang terjangkau' rata2 adalah arsitek yang kurang berpengalaman, atau desainnya 'kurang bagus'. Sementara 'arsitek yang bagus/punya nama' rata2 mereka hanya melirik proyek dengan fee yang super tinggi, atau proyek yang bergengsi saja. Belum lagi waktu yang disediakan, tentunya sangat sedikit, alias sang arsitek 'super sibuk'.
  • Untuk arsitek, bila kita memberikan desain gratis, itu artinya desain yang 'seadanya' atau 'instant' saja, mungkin dapat diartikan desain yang hanya bisa dijadikan acuan saja, bukan gambar kerja resmi.
  • Untuk klien, bila anda mendapatkan desain gratis seperti ini, bagaimana pun juga anda tetap memerlukan team lain yang handal, mungkin kontraktor yang sangat berpengalaman, atau mungkin juga bantuan arsitek muda agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda nantinya.

Intinya, memang gampang-gampang susah memberikan 'desain rumah gratis', di satu sisi, para arsitek sebenarnya tidaklah terlalu sulit meluangkan waktu untuk memberikan gambar ini, pada sisi lain, tanggung jawab atas gambar itu tetap ada, paling tidak, tanggung jawab moral. Selain itu, biasanya para arsitek ingin agar rumah tersebut terbangun dengan baik, dengan memberikan desain yang gratis, kemungkinan para arsitek tidak akan terlibat dalam pembangunannya, sehingga sulit untuk mengontrol hasilnya.

Sebenarnya ada cara lain yang dapat digunakan.

bukan memberikan 'desain rumah gratis', tetapi yang diberikan adalah "inspirasi desain rumah".

Bila bersifat inspirasional, maka, 'karya' sang arsitek adalah "inpirasi"nya, bukanlah produknya.

Banyak pemilik rumah yang sebenarnya, punya dana, namun sulit untuk mencari arsitek yang cocok dengan kebutuhannya. Sulit disini bisa diartikan, tidak mengenal arsitek yang 'dapat dipercaya', tidak kenal satu pun arsitek, lokasi tanahnya berada didaerah yang cukup jauh (dari arsitek yang dia inginkan), atau punya arsitek namun ingin masukan/ide dari karya desain arsitek yang lebih senior (misalnya).

Untuk kasus seperti itu, maka gambar "inspirasi desain rumah tinggal" memang diperlukan.

Saya pun, cukup sering di'hire' oleh klien dari luar Indonesia, dari negara2 yang sangat maju hanya karena mereka ingin 'inspirasi desain' dari saya. Yang mereka 'butuhkan' bukan arsitek yang dapat membangun (tentu banyak di negara tersebut) , tetapi yang mereka inginkan adalah (mungkin), ide dan inspirasi dari karya saya. Desain saya lalu mereka 'tweak'sesuai dengan kebutuhan/regulasi di negara tersebut.

Berpikir seperti kasus ini, sebenarnya, kita para arsitek, sangat dimungkinkan untuk memberikan kepada 'siapa saja', gambar "inspirasi desain rumah tinggal" ini. Bisa gratis, atau dengan fee yang sangat terjangkau. Selama sang klien mengerti 'aturan mainnya' bahwa gambar ini hanya bersifat, inpirasional saja...

Thursday, 18 September 2008

Arsitek cuman gambar doang kok mahal banget ya...












Untuk saya yang arsitek, masih kaget mendengar komentar seperti itu...tetapi,

Apakah saya tidak akan berkomentar yang sama tentang dokter? lawyer? montir? financial planner?

Intinya, kita memang masih sulit untuk menerima 'kenyataan' tentang 'the power ofthe brain'.

Mungkin ada baiknya kita berpikir sejenak tentang 'para konsultan' ini..apakah benar fungsi mereka hanyalah sekadar 'ngomong doang', 'gambar doang', 'masak doang'?

Atau apakah sentuhan mereka yang dapat merubah yang jelek menjadi baik? yang salah menjadi benar? yang sakit menjadi sehat?

Apakah Paris akan seperti "paris" yang kita kenal, bila dikerjakan oleh 'arsitek' yang 'cuman gambar doang'?

Think About it..

(foto diatas saya ambil diatas bis di Paris...memang fantastik)