Thursday, 7 June 2007

Desain/Style : Siapa yang punya?

Siapa yang memiliki desain/style proyek rumah tinggal? Anda sebagai owner? atau kan desainer sebagai, well, desainer?

Bagaimana pada akhirnya, rumah impian anda di desain tidak seperti yang anda harapkan?
Bagaimana pada akhirnya, bila sang desainer merasa rumah tinggal ini tidak sesuai dengan harapannya?

Menjelaskan arahan desain anda kepada sang desainer pada awal2 pertemuan adalah sangat penting, karena setiap pihak - klien dan desainer - mempunyai 'sense of beauty' sendiri2. Bila anda berada pada posisi yang sama, itu adalah hal yang sangat baik. Bila terdapat perbedaan pandangan, maka, salah satu harus berani 'bertanggung jawab' atas style yang ditentukan.

Apakah anda harus mengalah dan mengikuti keinginan desainer? - toh memang itu tugas dan keahliannya (hal yang selalu ia pelajari)
Apakah justru sebaliknya, desainer yang harus mengikuti keinginan anda? - toh ini memang rumah anda (juga ini uang saya)

Pada suatu kasus kompromi sangat dianjurkan, karena memang dalam urusan style, sulit kita menentukan benar atau tidaknya; Namun pada satu sisi, kompromi justru memperlemah 'kekuatan desain' itu sendiri (master of none; gak begini dan gak begitu = kacau).

Secara pribadi sungguh sulit saya menganjurkan langkah yang mana diambil, karena saya tahu ada proyek yang menjadi baik karena klien turut campur dalam desain, juga ada proyek yang 'kacau' justru karena sang desainer terlalu mengikuti apa keinginan desaner.

Yang terbaik, anda harus bersiap untuk mengambil keputusan; Semuanya kita kembalikan kepada rasa percaya terhadap desainer kita atau tidak.

Wednesday, 23 May 2007

Pertimbangan-pertimbangan....

Time Vs. Budget Vs. Design Vs. Quality

Setiap keputusan dalam pembangunan rumah, selalu harus berhadapan dengan prioritas elemen2 diatas...

Apakah waktu yang menjadi prioritas? apakah desain? apakah kualitas (pekerjaan)? juga apakah pendanaan?

Walau kita selalu ingin semuanya sempurna, kita juga tahu, dalam kenyataannya, selalu ada yang di korbankan.

Mungkin sangat bisa di debat kesimpulan dari saya, yaitu:

Dana - masih bisa dicari lagi...

Waktu - se"lama-lama"nya pembangunan atau penggambaran, akan lebih lama waktu pemakaian rumah itu...

Kualitas Pekerjaan - beberapa kekurangan, masih dapat dibetulkan kemudian hari (bocor, retak etc)

Desain - akan tetap bertahan bertahun2 selama rumah anda tinggali, desain rumah yang anda suka, akan tetap ada selamanya...., desain rumah yang "tidak sukses" juga akan tetap akan terlihat, selama rumah itu ada...hanya satu cara untuk memperbaikinya, rata tanah, ulang membangun kembali (atau renovasi besar2an)...

Bila kita melihat bangunan "lama" seperti bangunan eks kolonial yang masih bertahan; Istana negara, rumah2 tua di menteng, gedung2 lama di daerah Kota (jakarta)...apakah terlintas di benak anda isu-isu pada saat bangunan tersebut pada masa penggambaran dan konstruksi? (waktu yang molor, dana yang membengkak, perkerjaan yang kurang baik) ataukan kita pada saat ini menikmati sebuah hasil desain yang bagus?

;-)

Tuesday, 15 May 2007

Mendesain rumah sesuai dengan karakternya














Rumah adalah impian kita semua, bahkan mungkin untuk sebagian dari kita, rumah adalah segalanya. Bertahun-tahun kita bermimpi dan berupaya semampu kita untuk dapat mewujudkannya, karena rumah, untuk sebagian besar orang adalah investasi terbesar dalam hidupnya.

Namun terkadang impian tidak selalu sesuai dengan kenyataan, terutama karena kesepatan dan budget yang terbatas. Sering kali saya menemukan dimana impian dari klien saya 'tidak dapat terwujud' karena keterbatasan-keterbatasan tersebut. Banyak diantaranya mengiginkan rumah idaman yang sayangnya, menurut saya sulit diwujudkan pada situasi yang ada.

Selain budget, kondisi dan bentuk tanah juga sangat mempengaruhi desain rumah anda. Setiap tanah, mempunya 'cerita' nya sendiri, cerita yang memerlukan karakter yang sesuai dengan alur yang sudah disediakan. "Pemaksaan" desain tertentu pada lahan yang terbatas seringkali menghasilkan desain yang "sembrono".

Misalnya, pada lahan yang kecil, dari pada membuat bangunan yang "terlihat besar", mungkin ada baiknya kita membuat bangunan "mungil" yang menarik.

Pada lahan yang luas, dari pada membuat satu rumah berukuran raksasa, mungkin lebih baik mendesain rumah yang terdiri dari berbagai bangunan terpisah dengan landscape yang menarik.

Pada posisi tanah pojok, ada baiknya membuat rumah "berkarakter khusus", mungkin ada bagian yang menjadi "tower".


Pada lahan memanjang dan dipinggir jalan besar, mungkin yang terbaik justru menempatkan area 'servis' di bagian depan dan belakang justru sebagai 'private area'…

Style juga mempengaruhi, seperti; Desain rumah classical, lebih menuntut ke-simetrisan. Desain rumah modern, lebih cocok pada kondisi tanah yang tidak "simetri", desain rumah tropis mungkin lebih baik untuk lingkungan yang masih memiliki banyak pepohonan, rumah diantara area komersial (disamping ruko atau banyak toko-toko kecil) mungkin ada baiknya memiliki karakter yang simple dan "kotak"…

Setiap kondisi bentuk tanah dan lingkungan, terkadang membutuhkan karakter desain yang memang sudah menjadi 'jodoh'nya. Memang sangat disayangkan, bila karakter tanah tersebut menuntut desain yang berbeda dengan impian anda, namun mungkin ada benarnya istilah 'tak kenal maka tak sayang', jadi desain yang baik, besar kemungkinannya membuat anda jatuh cinta dari pada "jodoh" yang dipaksakan ;-)

Wednesday, 18 April 2007

Waktu, Kapan Lambat, Kapan Terlalu Cepat?

Background Story:

Saya di ajak oleh teman saya ke sebuah warung gaul di cipete, katanya Ikan Patin bakarnya enak banget, tapi " jangan ditungguin", karena lama sekali membuatnya. Mereka membakarnya tidak terburu-buru sehingga bumbunya meresap, memang bila kita memesan ikan bakar di restoran akan lebih cepat disajikannya, tapi karena pekerjaan mereka instan(cepat), tentu ikan bakarnya tidak sebaik disini. Kira-kira seperti saran teman saya.

Saya jadi berpikir mengenai waktu pekerjaan...

Pada saat itu, saya baru saja mendapat brief dari sebuah developer untuk membuat sebuah gerbang. Bukan salah mereka, dari awal pun, pada saat perkenalan, mereka sudah wanti-wanti untuk 'kerja dengan cepat'. Developer ini juga berkata bahwa proyek gerbang ini sangat penting buat mereka.

Yang ada dikepala saya, bila gerbang ini sangat penting, mengapa mereka justru terburu-buru mengerjakannya?

Bagaimana bila di sebuah restoran saya memesan "Steak"dan saya meminta kepada sang pelayan untuk membuatnya secepat mungkin? mungkin karena saya lapar, mungkin juga saya punya perasaan, toh saya sanggup membayar steak ini, "I have the money, and I want it now".

Tapi bila saya pikir baik2? saya tidak tahu apa yang terjadi di dapur merek, jangan-jangan mereka malah memakai microwave hanya untuk "kejar setoran" saja.

Dan bila akhirnya rasa steak itu tidak enak, saya tetap harus membayar toh?

**************

Salah satu 'kriteria' tanda seorang Arsitek/Interior bahwa mereka itu profesional adalah Ketepatan Waktu. Tidak hanya dalam pengertian punctual bila berjanji untuk bertemu (janji jam 3 sore, datang harusnya jam 3 sore...) juga dalam ketepatan janji untuk penyerahan gambar. Jangan lupa untuk meminta time schedule...

Nah, inti dari tulisan ini adalah tentang penilaian kita kepada waktu yang di tawarkan dari sang desainer, yang pada umumnya, justru 'diberikan' oleh sang klien.

"saya ingin membangun pada bulan oktober"...atau misalnya "saya ingin bangunan jadi di bulan november" selain itu juga bisa seperti "saya mau yang cepat"...tentu itu yang kita harapkan sebagai klien kepada sang desainer, kenapa? selain alasan-alasan khusus, (oktober adalah ulang tahun perkawinan, misalnya - atau November agar pada tahun baru kita bisa mengundang teman-teman ke rumah baru, atau tentu ada rasa, ya saya punya dana cukup, kok lama sekali sih untuk membangun rumah ini? kenapa menggambar saja susah?

Pada satu sisi, sang desainer juga dihadapkan dua pilihan. Pertama, tentu ia ingin proyek ini, baik karena alasan finansial maupun profesional. Kedua, ada rasa bahwa desain yang baik, tentu bukan desain yang 'instan'.

Terkadang yang terjadi adalah, Sang Desainer tergoda untuk memberikan waktu sesuai dengan yang anda minta demi untuk mendapatkan proyek. Namun, walau pada akhirnya sang Desainer dapat memenuhi waktu yang di inginkan, pertanyaannya adalah, apakah dia telah memberikan hasil yang terbaik? ataukan "instant"?

Untuk ini saya belum ada jawaban pasti, poin yang terpenting adalah hati-hati dengan permintaan waktu yang cepat, dan jangan pula sampai kebablasan proyek berjalan dengan waktu yang terlalu "bebas"....

(isu yang sama, juga berlaku ketika kita meminta perhitungan budget kepada kontraktor, apakah dengan biaya yang kita minta mereka akan bekerja serius? apakah mereka akan mengurai kualitas material?)

Target kita semua adalah : Proyek ini berjalan dengan baik, dan Proyek ini hasilnya "sempurna". Waktu dan Budget bukanlah target utama kita, dan tidak ada artinya bila hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Membangun rumah bukanlah pekerjaan 1+1=2...

Saturday, 24 March 2007

Inspirasi : Robb Report Vacation Homes April 07






Gambar2 pilihan saya dari majalah ini...semoga bisa jadi inspirasi ;-)



Friday, 23 March 2007

Indahnya warna "hitam"...














Beberapa waktu lalu, saya diundang oleh sebuah dealer mobil untuk "mengintip" mobil terbaru mereka yang akan keluar tahun ini, walau tidak ada rencana untuk membeli mobil, saya menanyakan warna-warna apa saja yang ada. Saya sendiri selalu suka dengan warna abu-abu (grey metallic), selain purely masalah selera, saya merasa body mobil akan terlihat lebih dramatis lekukannya dengan warna tersebut, ketimbang warna hitam misalnya.

Namun diluar dugaan, si salesman yang biasanya 'meng-iyakan' keinginan calon pembeli justru tidak menganjurkan warna grey tersebut, dia mengarahkan warna hitam (mungkin yang ready stock adalah warna itu - dasar salesman). Begini kira-kira kalimat salesman tersebut;

"kalo warna hitam pak, ketika suatu saat bapak menjual, lewat telpon atau koran saja, orang pasti tahu warna hitam seperti apa, sedangkan bila warna abu-abu, orang pasti menayakan lebih lanjut, abu-abu yang mana? terang atau gelap? ada kecoklat2an apa murni abu-abu? orang akan bingung dengan warna itu, karena memang warna abu-abu banyak sekali..."

Saya tersentak mendengar penjelasan tersebut, karena saya langsung berpikir, bila warna lain bagaimana ya? merah? coklat? biru? bagaimana menerangkan ke klien tanpa memperlihatkan lebih dahulu?

Pagi tadi, salah seorang klien saya, menelepon, minta advice karena ia mau membeli furniture dan meminta saran saya, warna apa yang cocok. Jawaban saya cukup jelas "beli warna yang natural saja, karena furniture harapan kita umurnya panjang, jadi hindari yang trendy, ada baiknya ambil warna hitam atau coklat", lalu dia tanya kembali "coklat yang bagaimana?" sulit buat saya untuk menerangkannya (dia harus ambil saat itu juga, dimana saya tidak mungkin pergi ketempat itu), lalu jawaban saya koreksi.

"ambil warna hitam saja, pasti aman. Warna hitam kan pasti hitam toh?"

Itulah indahnya warna hitam.

Wednesday, 28 February 2007

Cek Budget anda..seriously.

Dibeberapa rumah tinggal yang saya desain, saya cukup bersyukur mempunyai klien yang tidak membatasi dalam segi pembiayaan. Walau tetap bekerja dalam rencana pembiayaan yang terukur, selalu ada rasa "aman" apabila dalam perjalanan saya mendesain, saya tambahkan beberapa elemen yang pada akhirnya mau tidak mau membebani rencana tersebut. Saya beruntung karena klien sayaselalu menyanggupi perkembangan biaya tersebut. That's good for both of us.

Namun, sudah tentu saya tidak selalu mempunyai klien yang seperti itu. Pernah salah satu klien saya dengan tegas berkata;

"hanya segini uang saya, lebih sedikit saja, saya benar-benar tidak sanggup".

Pada saat itu pula saya dengan team kontraktor benar-benar berhati-hati dalam menghitung biaya bangunan ini, dengan sangat sadar kita berusaha menghitung biaya pembangunan sesuai dengan anggaran, atau bila perlu lebih rendah dari yang kita rencanakan. Good for both of us.

Namun, sepanjang pembangunan, selalu ada saja perkembangan yang tak terduga. Hal yang kecil yang kita terlewati mulai bermunculan, yang pada satu ketika mulai menjadi beban terselubung.

Dengan kita selalu meninjau proyek dalam segi pembiayaan, kita dapat mengerem biaya-biaya tidak terduga tersebut, atau dengan sadar mengetahui apa-apa saja yang telah membengkak dan secepatnya mengambil keputusan untuk meninjau kembalik apa-apa saja yang belum dikerjakan untuk memenuhi sisa budget tersebut.

Ada baiknya kita tidak terburu-buru dalam membangun rumah; Cepat bukan berarti terburu-buru. Bila saat ini anda sedang 'asik-asiknya' membangun, saya anjurkan, berhenti sejenak. Ambil nafas dan evaluasi hasil kerja kontraktor dan pengeluaran yang telah dilakukan.

Jangan membangun rumah karena faktor emosional, ingin cepat-cepat selesai. Anda akan kecewa pada akhirnya bila biaya dan kualitas pembangunan tidak seperti yang anda harapkan; ketika rumah sudah jadi, ketika adrenalin membangun sudah hilang, setelah "house warming" diadakan, baru pada saat itu anda melihat dengan jelas, apakah proyek ini berjalan dengan baik, atau tidak.

Selamatkan proyek anda, sekarang juga.